1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
academicus

Something More

academicus:

Selasa kemarin, saya kedatangan tamu spesial.

image

5 anak kelas 5 SD dari Mentari School: Rumi, Syaina, Dafa, dan dua kawannya.

Mereka bercerita bahwa mereka akan menggelar pameran tentang berbagai jenis pekerjaan di sekolahnya. Semua siswa dibagi dalam kelompok, dan setiap kelompok mendapatkan tugas untuk mewawancarai orang-orang sesuai pekerjaannya.

Kelompok mereka mendapatkan tugas untuk mewawancara Blogger dan Vlogger.

Melalui serangkaian jaringan sana sini, saya blogger yang kena tembak untuk jadi sasaran wawancara mereka. Saat pertama kali dihubungi dan mendengar mereka punya tugas untuk wawancara blogger, hal pertama yang terlintas di kepala saya, saya ngapain ya waktu kelas lima?

Rasanya kerjaan saya cuma main bola dan ga betah di kelas menunggu waktu main bola. Sekarang, anak anak ini punya PR yang buat saya keren luar biasa.

Mereka diantar oleh ibunya Rumi, dan kemudian ditinggal untuk melakukan wawancara mandiri dengan saya. Layaknya anak SD pada umumnya, mereka langsung kasak kusuk buka buku catatan berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan untuk saya. Lalu salah satu dari mereka mulai bertanya,

Can we do it in English?

Saya cengap sebentar, lalu mengangguk, “If you guys are more comfortable with that, sure”. Saya kemudian baru sadar kalau Mentari School itu sekolah internasional.

Mereka pun memulai dengan beberapa pertanyaan dasar yang terdengar sangat template, tapi saya sangat kagum karena dilakukan oleh anak kelas lima. Pertanyaannya berputar di sekitar what is blog, why do you blog, dan how do you start, pertanyaan sederhana yang ternyata lumayan membuat saya berpikir. Saya jawab satu per satu lalu mereka sibuk mencatat dengan pensil. Canggihnya, salah satu dari mereka tidak mencatat, tapi menyodorkan iPhone nya untuk merekam. Iya, iPhone.

“So where do you blog?”

“Tumblr. You guys know it?”

“Yes, kind of instagram and twitter, right?”

“Social media, yes”

“What’s the difference? Is it better?”

Saya tersenyum sebentar, lalu membuka hape saya dan menunjukkan aplikasi Tumblr.

image

“This is Tumblr Dashboard. You can try post anything”

Saya lalu membiarkan mereka mencoba main Tumblr. Mereka keasikan memainkan tombol post yang memunculkan 7 icon postingan secara popout.

“You can literally post anything so easily, and have your beautiful blog without doing anything. Tumblr make everything for you”

Anak anak itu mengangguk, lalu salah satu dari mereka bertanya.

“What can I see in Tumblr?”

Saya terdiam sebentar, lalu menjawab. “Well, anything. What do you want to see?”

“Hmm lego?”

“Of course”. Saya lalu mencoba membuat postingan GIF dan mengetikkan lego. Lalu muncul ribuan GIF lego.

image

Saya coba scroll ke bawah, dan ketika hasilnya ada terus menerus, yang lain mulai ikutan.

“Try Spongebob!”

image

“How about naruto?”

image

“Frozen?”

image

Saya mengetik semuanya. And Tumblr just never let me down.

Mereka semakin asik mencoba berbagai hal di Tumblr, sampai saya harus mengembalikan mereka ke daftar pertanyaan.

“Okay guys, any other question?”

Mereka kembali melihat catatan, lalu melemparkan satu pertanyaan terakhir.

“This is the last one. What do you get from your blog? From your Tumblr?”

Saya terdiam sejenak, lalu mengingat banyak hal yang saya dapatkan selama 5 tahun ngeblog di Tumblr.

“I get a lot of things. At first, it was just me expressing myself. Post things I like, write about stuffs I’m curious about, tell stories about things around me.

Then, I got a lot of new friends. Everywhere I go, I felt like someone from Tumblr can welcome me in the city.

I am connected with people who have similar interests. Real people whom I really meet, who share their real stories.

I have people listen to my stories.

I got supports in helping others. 

I got advices, fresh ideas, and new inspiration.

I got excited to explore my creativity. 

At first, Tumblr is just a canvas, where you express yourself and tell your stories. But when you do it right, being honest with who you really are, it becomes something more”

.

.

.

“It becomes a home”

academicus
lembarkertas

Tentang Plagiasi

lembarkertas:

Karyamu diambil tanpa sepengetahuanmu lalu didaku itu karya dia? Adalah hal yang wajar.

Ya, wajar karena manusia adalah peniru yang ulung. Sejak kecil kita telah menirukan hal-hal yang ada di sekitar dan dari orang-orang sekitar. Sejak itu, kita membudaya dan jadi seperti sekarang, sikap kita, pandangan kita, cara berpakaian kita, dan lain sebagainya.

Ada tindakan turunan meniru yang lebih ekstrem, plagiasi. Seperti yang kita tahu, plagiasi adalah mencaplok ide, karya, dan inovasi orang lain lantas diakui sebagai hasil proses si plagiat. Ini bukan hal baru, kok.

Ketika akhir-akhir ini muncul respon dari teman-teman, yang mengeluhkan, karya mereka diplagiat oleh teman lain, saya cuma merenung panjang. Kita berada dalam dunia yang saling terhubung. Kita membuat sebuah karya lantas mengunggahnya ke dunia maya (tumblr) dan bisa diakses semua orang, bahkan dari tempat jauh (sejauh mantan gebetan yang menghindarimu), itulah kita saat ini.

Saya yakin kita semua di sini ingin karya kita dibaca banyak orang; ingin dipuji dan diberi “love” dan direblog; ingin di-ask sama followers; dan keinginan lainnya. Maka, kita pun berlomba-lomba mengunggah karya semenarik mungkin, 24 jam kalo perlu. Itulah kita.

Lalu tiba-tiba karya kita diposting di tempat lain oleh akun yang tidak kita kenal. Respons kita? Protes dan menyebarluaskan bahwa kita terkena plagiasi. Ya ini reaksi yang wajar.

Tapi, sebentar, apa tujuan kita membuat karya di sini? Sekadar main-main atau serius ingin ngeblog dan jadi penulis? Saya sendiri juga seperti itu, tapi saya tidak akan ambil pusing atas plagiasi. “Mereka bisa mengambil karya kita, tapi tidak akan bisa mengambil ide-ide kita yang masih tersimpan di diri kita,” saya ucapkan ini dalam diskusi di KITA Regional Sumatera.

Oleh karena itu, saya tidak pernah mengunggah karya puisi atau cerpen yang belum pernah diterbitkan media mana pun di tumblr saya. Sekadar menghindari pusingnya memikirkan karya yang diplagiasi orang lain. :)

lembarkertas